Senin, 14 Maret 2016

Jadilah Uswah, Bukan ‘Ibroh!
Majapahit dikenal memiliki kekuasaan luas. Menurut Kitab Negarakretagama, kekuasaannya, sampai ke Sumatera dan Malaysia. Namun kini, kedigdayaannya tinggal cerita dan tinggal bekasnya [ilustrasi]
DALAM salah satu ceramahnya, Syaikh Salman Al-‘Audah memberi kita nasehat:
“Di antara cara Allah menyadarkan suatu bangsa dan menjauhkan mereka dari hukuman-Nya adalah dengan membinasakan tetangga-tetangga mereka (yakni, yang zalim) agar mereka mengambil ‘ibrah darinya, sebagaimana firman Allah:
وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا مَا حَوْلَكُمْ مِنَ الْقُرَىٰ وَصَرَّفْنَا الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (الأحقاف: ٢٧)
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat).” (Qs al-Ahqaf: 27)
Perhatikanlah umat-umat, negara-negara, dan bangsa-bangsa yang telah dihancurkan Allah. Periksalah penyebab kehancuran mereka dan jauhilah. Orang bahagia adalah orang yang bisa memetik nasihat dari pengalaman orang lain. Oleh karenanya sebagian orang shalih pernah berdoa:
اللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا عِبْرَةً لِغَيْرِنَا
“Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan kami sebagai ‘ibroh (pelajaran) bagi orang selain kami.”
Sebab, sebagaimana Allah membinasakan umat-umat lain agar kita bisa memetik ‘ibroh darinya, maka tidak tertutup kemungkinan bila Allah membinasakan kita agar orang lain bisa mengambil ‘ibroh dari nasib kita itu. Sungguh tidak ada penyambung di antara Allah dan makhluk-Nya kecuali takwa.
Inilah salah satu persoalan yang dengannya Allah masih menjauhkan kita dari kehancuran itu, sampai saat ini. Sebab kita tahu bahwa beberapa waktu belakangan ini negeri kita masih terpelihara dari malapetaka berskala luas dan nestapa yang menyentuh segenap penjurunya; sementara pada saat bersamaan bangsa-bangsa lain di sekeliling kita telah “disambar” (oleh bencana). Setiap hari kita pun mendengar berita-berita pilu.” (Dipetik dari: Duruus li asy-Syaikh Salman al-‘Audah, transkrip ceramah ke-193 berjudul: Mashiirul Mutrofiin {akhir kesudahan orang-orang yang berlebihan})
***
Renungkanlah! Kita adalah generasi ke sekian Bani Adam. Kita juga bukan umat dan komunitas pertama yang hidup di Nusantara ini. Negara kita juga bukan satu-satunya yang pernah eksis di kawasan ini. Dulu ada Sriwijaya yang kebesarannya terdengar sampai ke China. Pernah ada pula Majapahit yang menjadi ‘super power’ di zamannya. Setelah itu ada lagi kerajaan-kerajaan hebat: Aceh, Malaka, Demak, Mataram, Makassar, Ternate, Tidore, dan banyak lagi lainnya.
Kemana mereka semua?
Kita hanya mengenal sisa-sisanya di museum dan buku-buku sejarah. Kemegahan mereka mungkin membuat kita bangga, tapi tidak ada lagi peluang untuk menghidupkannya seperti sediakala.
***
Tariklah kisah ini ke ruang lebih khusus. Tidak sedikit ormas, partai, pesantren, sekolah, universitas, toko, pabrik, perusahaan, dan lain-lain yang pernah digdaya di zamannya. Namun, kini nyaris tidak ada lagi yang mengingat kiprahnya dan mendengar namanya. Semua terbenam dan lenyap. Sisa-sisa kebesaran yang mereka miliki kemudian menjadi pelajaran bagi orang-orang di belakangnya.
Mereka punah secara tragis. Seperti kapal Titanic yang — konon pemiliknya sesumbar secara jumawa — bahwa “Tuhan pun tidak akan bisa menenggelamkannya”. Tapi, semua orang tahu bagaimana kapal pesiar mewah itu karam justru pada pelayaran pertamanya.
***
Kita sadar bahwa terbit dan terbenam adalah sunnah kehidupan. Tidak ada yang abadi selain Allah. Namun, jika pun kita harus lenyap suatu saat nanti, pastikan kita menjadi uswah (teladan) bagi orang lain, bukan ‘ibroh (pelajaran) bagi mereka.
Para Nabi adalah model manusia “uswah” itu. Mereka manusia yang sama seperti kita, yang tidak bisa melawan sifat fana dalam dirinya. Namun, kehadiran mereka menginspirasi, dan ketika mereka pergi keteladanannya abadi. Uswah adalah pelajaran positif dan contoh menuju kebaikan-kebaikan.
Tapi kita juga mendengar nama musuh-musuh mereka. Ada Namrud, Fir’aun, Haman, Qarun, Abu Lahab, dan masih banyak lagi. Kita juga sering membaca kisah-kisah kehancuran kaum-kaum nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Luth, dan seterusnya. Kita pun mendapat pelajaran dari pembangkangan serta kedurjanaan mereka, yang berakhir tragis. Kaum-kaum dan orang-orang itu adalah sosok ‘ibroh bagi kita. ‘Ibroh merupakan hikmah di balik kebinasaan dan malapetaka yang dialami orang lain.
***
Jadikan dirimu uswah! Jadikan keluargamu uswah! Demikian pula masjidmu, pesantrenmu, desamu, sekolahmu, tokomu, perusahaanmu, media massamu, software ciptaanmu, dan semua yang terkait denganmu. Pastikan orang lain terinspirasi dan mencontoh kebaikan-kebaikan yang kau tampilkan di sana. Dengan inilah engkau akan melipatgandakan amal sholih, sebab siapa yang memulai suatu kebajikan lalu dicontoh orang lain, maka engkau akan diberkahi dengan pahalanya selain pahala amalmu sendiri.
Namun, berupayalah agar tidak menjadi ‘ibroh bagi siapa pun. Mohonlah kepada Allah agar menjauhkanmu darinya. Sebab, jika ini terjadi, berarti engkau telah melakukan suatu kesalahan yang dengannya Allah menjatuhkan musibah dan hukuman. Orang lain akan mengambil pelajaran dari kesalahanmu dan selamat dari “lubang” yang sama. Mereka beruntung karena dosamu, sementara engkau sendiri terpuruk dalam nestapa karenanya.
Sungguh, tidak pernah ada jaminan NKRI ini akan abadi. Demikian pula perusahaan, pesantren, sekolah, bank, klub sepakbola, parpol, ormas, dan apa pun yang hari ini engkau banggakan dengan fanatik. Bertakwalah kepada Allah, sebelum murka-Nya turun dan menggiringmu menuju jurang ‘ibroh bagi pihak lain. Turuti perintah-Nya, jauhi larangan-Nya. Merunduklah di hadapan-Nya dengan setulus hati. Jangan coba-coba menantang-Nya.
Jangan pongah, sebab kuasamu terbatas, sementara Dzat yang kausombongi itu tak tersentuh kelelahan maupun kelemahan. Apakah menurutmu Dzat yang dulu telah meluluh-lantakkan Sodom dan Gomorrah tidak sanggup melakukannya sekali lagi di sini? Apa engkau pikir Dzat yang membenamkan Qarun dan menenggelamkan Fir’aun sudah pensiun, sehingga para penguasa para zhalim dan hartawan-hartawan tengik itu pasti aman dari pembalasan-Nya? Jangan mimpi!
Dengarkanlah! Ancamannya masih tertera jelas dalam Kitab Suci-Nya, tidak pernah direvisi maupun dicabut.
أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ (٩٧) أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ (٩٨) أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (٩٩) {سورة الأعراف}
“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? (*) Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS Al-A’raf: 97-99)
Selamatkan dirimu, sebelum terlambat! Wallahu a’lam.
Kafir yang Adil atau Muslim yang Dzalim?
Keadilan memang landasan yang paling penting dalam sebuah pemerintahan, namun siapa bilang hanya orang kafir yang memilikinya? Kondisi yang sangat mustahil, ketika masyarakat muslim seantero jakarta kalah adil dengan 1 orang kafir. Logika mana yang bisa menjelaskan hal ini?? Kalimat ini diangkat penuh dengan muatan kepentingan.
Dan hakekatnya ini pengelabuhan. Seolah si calon kafir ini sosok yang adil. Siapa yang menilai? Jika itu dinyatakan oleh tim suksesnya, wajar saja, karena mereka dijanjikan mendapat cipratannya. Masalah pencitraan media, memang sejak dulu media liberal selalu memihak si kafir. Jelas penilaian yang sarat dengan kepentingan..
Pernyataan bahwa “Pemimpin kafir yang adil lebihi baik dari pada pemimpin muslim yang dzalim” ini kalimat racun yang dihembuskan orang syiah untuk memberi kesempatan bagi orang kafir untuk menguasai kaum muslimin.
Kita simak pengakuan Dr. Thaha Dailami – da’i di Baghdad – Iraq, saksi sejarah Invansi Amerika ke Iraq –,
Bahwa manusia yang paling berperan dalam invansi USA di Iraq adalah orang syiah. Karena mereka punya kepentingan untuk menggusur muslim ahlus sunah.
Dalam artikelnya, Dr. Thaha Dailami menuturkan,
والملاحظ تاريخياً وواقعياً أن الشيعة – كلما هدد البلاد خطر خارجي، أوسعوا هم إلى استقدامه – يبدأون بإشاعة مقولة خطيرة، ونشرها بين الناس تنص على أن: (الكافر العادل خير من المسلم الجائر). وقد انتشرت هذه المقولة أيام التهديدات الأمريكية قبيل غزو العراق
Catatan sejarah dan realita, bahwa syi’ah – ketika negara mendapat ancaman dari luar – mereka (syiah) adalah manusia yang berusaha menyambut baik kehadirannya. Mereka awali dengan menyebarkan kalimat motivasi yang berbahaya. Mereka sebarkan di tengah masyarakat pernyataan,
الكافر العادل خير من المسلم الجائر
“Kafir yang adil lebih baik dari pada muslim yang dzalim.”
Mereka sebarkan pernyataan ini pada masa invansi amerika sebelum perang Iraq. (at-Tasyayyu’ wa Qabiliyah al-Isti’mar – bagian 1).
Dan ternyata ini sambungan dari sejarah syiah sejak masa silam. Sekitar tahun 656 H, bani Abbasiyah yang berdikari di Baghdad, tepatnya di masa Khalifah al-Musta’shim Billah, runtuh di tangan bangsa Mongol. Peran terbesarnya karena pengkhianatan yang dilakukan perdana menteri Ibnul Alqami, orang syiah rafidhah.
Tatkala pasukan Mongol mengepung benteng Kota Baghdad pada tanggal 12 Muharram 656 H, mulailah perdana menteri Ibnul Alqami menunjukkan pengkhianatannya. Dial orang yang pertama kali menemui pasukan Mongol, bersama keluarga, pembantu, dan pengikutnya menemui Hulaghu Khan untuk meminta perlindungan. Kemudain dia kembali ke Baghdad lalu membujuk Khalifah agar keluar bersamanya untuk menemui Hulaghu Khan dengan usulan, hasil devisa dibagi, setengah untuk Khalifah dan setengah untuk Hulaghu.
Berangkatlah Khalifah bersama para qadhi, ahli fiqh, kaum sufi, tokoh-tokoh negara, masyarakat dan petinggi-petinggi negara dengan 700 pengendara. Tatkala mereka hampir mendekati markas Hulaghu mereka ditahan oleh pasukan Mongol dan tidak diizinkan bertemu Hulaghu kecuali Khalifah bersama 17 orang saja. Mereka dengan mudah diteror, diancam, diintimidasi dan dipaksa agar menyetujui apa yang diinginkan Hulaghu.
Kemudian Khalifah kembali ke Baghdad bersama Ibnu al-Alqami dan Nashiruddin ath-Thusi yang sama-sama syiah. Di bawah rasa takut dan tekanan yang hebat, Khalifah pun mengeluarkan emas, perak, perhiasan, peramata, dan barang-barang berharga lainnya yang jumlahnya sangat banyak untuk diserahkan kepada Hulaghu. Akan tetapi sebelumnya, Ibnu al-Alqami bersama bersama Nashriuddin ath-Thusi sudah membisiki Hulaghu agar tidak menerima tawaran perdamaian dari Khalifah. Mereka pun mendorong Hulaghu agar menghabisi Khalifah.
Tatkala Khalifah kembali dengan membawa barang-barang yang banyak, Hulaghu justru menginstruksikan agar mengeksekusi Khalifah. Maka pada hari Rabu tanggal 14 Shafar terbunuhlah Khalifah al-Musta’shim Billahi.
Bersamaan dengan gugurnya Khalifah, pasukan Mongol pun menyerbu masuk ke Baghdad tanpa perlawanan yang berarti. Dengan demikian, jatuhlah Baghdad di tangan pasukan Mongol. Dilaporkan bahwa jumlah orang yang tewas kala itu adalah 2 juta jiwa. Tak ada yang selamat keucali Yahudi dan Nasrani serta orang-orang yang meminta perlindungan kepada pasukan Mongol atau berlindung di rumah Ibnu al-Alqami serta para konglomerat yang membagi-bagikan harta mereka kepada pasukan Mongol dengan jaminan keamanan pribadi..! (KisahMuslim.com)
Untuk menyambut Hulaghu Khan sebagai penguasa Baghdad yang kedua, mereka menyebarkan kaliat di atas,
الكافر العادل خير من المسلم الجائر
“Kafir yang adil lebih baik dari pada muslim yang dzalim.”
Yang menyebarkan motivasi ini seorang tokoh syiah bernama Ibnu Tahwus.
Dalam catatan sejarah tokoh Syiah, Ibnu Thaqthaqi dinyatakan,
أن ابن طاووس أصدر فتوى لهولاكو بتفضيل الكافر العادل على المسلم الجائر
“Bahwa Ibnu Thawus menerbitkan fatwa untuk mendukung Hulaghu Khan, dengan lebih mengedepankan orang kafir yang adil dari pada muslim yang dzalim.” (al-Fakhri fil Adab as-Sulthaniyah, hlm. 17).
Mengingat Syiah itu tukang dusta, dengan mudah mereka menyebut itu pernyataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Meskipun sahabat Ali berlepas tangan dari semua klaim mereka. Anda bisa pelajari: Doktrin Aliran Syiah yang Paling Berbahaya...copas

Rabu, 20 Maret 2013



                                                             PUISI untuk MAMAH

Surat-mu Tuhan ...
Atas takdir seorang ibu
Yang mengandung ku tuk sembilan bulan
Yang melahirkan ku penuh derita
Nyawa iya pertaruhkan
Demi aku yang lemah tak berdaya

Selasa, 19 Maret 2013

                                         JADWAL PERTANDINGAN MANCHESTER UNITED
                                                        di Liga INGGRIS Bulan Maret-Mei 2013




1. Manchester United vs Norwich City (2 Maret 2013)
2. West Ham United vs Manchester United (9 Maret 2013)
3. Manchester United vs Reading (16 Maret 2013)
4. Sunderland vs Manchester United (30 Maret 2013)


SAHABAT bagi saya adalah sesuatu yang sangat penting dan bagi saya Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri. :)
Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya…